Nama Rabbku yang Ternoda

Nama Rabbku yang Ternoda

Segala puji bagi Allah dan sepantaslah pujian agung hanya tercurah untuk-Nya semata. Allah memiliki nama-nama yang mulia nan agung. Dia memilih nama-nama tersebut untuk menjadi nama-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

Ahlussunnah menetapkan nama-nama Allah berdasarkan nama-nama yang memang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Tidak ada jalan bagi akal manusia untuk membuat-buat nama ini kemudian menyematkannya kepada Allah, apalagi berdoa dengan nama-nama tersebut.

Ada 4 poin utama yang mesti dipahami dengan baik dalam memahami Asma wa Shifat (nama dan sifat Allah):

  1. Kaidah Ahlussunnah tentang nama-nama (dan sifat) Allah.
  2. Mengenal istilah ilhad
  3. Allah membenci ilhad
  4. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Berikut penjelasan singkat mengenai 4 poin di atas.

I.  KAIDAH AHLUSSUNNAH TENTANG NAMA-NAMA (DAN SIFAT) ALLAH 

Syaikh Dr Muhammad ‘Abdurrahman Al-Khumais, dalam kitabnya Mukhtashar Sabil Al-Huda wa Ar-Rasyad fiy Bayan Haqiyqah at-Tauhid Rabb al-‘Ibad, menyebutkan 6 kaidah dalam menetapkan nama-nama dan Sifat Allah.

Dua diantaranya yang kami anggap penting dalam catatan sederhana ini adalah sebagai berikut:

Pertama:

(الإيمان والتسليم بما ورد من الأسماء والصفات)

“Tunduk dan mengimani hal-hal yang tertera (dalam Kitab dan Sunnah) berupa nama-nama dan sifat Allah.”

Inilah salah satu peragaan keimanan seorang muslim. Ia meyakini dan menerima sepenuh hati hal-hal yang termaktub dalam Al-Qur’an/Sunnah dan lebih khusus lagi dalam tema ini yaitu tentang nama-nama Allah. Seorang muslim wajib mengimani hal ini tanpa merubahnya baik  mengurangi atau menambahnya.

Hal ini dipertegas oleh syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin. Beliau berkata, “Iman kepada Allah mencakup iman kepada nama-nama dan sifat Allah.”[1] 

Kedua:

(أن أسماء الله وصفاته كلها عندهم توقفية)

“Nama dan sifat Allah bersifat taufiqiyyah.”

Dalam perspektif Ahlussunnah, nama dan sifat Allah mesti berlandaskan wahyu. Hal ini tidak bisa ditetapkan oleh akal manusia karena nama dan sifat Allah termasuk keimanan yang berhubungan dengan perkara ghaib. Sementara hal ghaib tak akan pernah terjangkau oleh akal manusia yang terbatas. Oleh karena itu, pengetahuan tentang nama dan sifat Allah akan diperoleh di bawah sinar wahyu.

Dr Muhammad ‘Abdurrahman Al-Khumais berkata, “Hal ini dikarenakan keimanan terhadap nama dan sifat Allah termasuk keimanan yang berhubungan dengan perkara ghaib. Tidak mungkin mengetahui perkara ghaib ini kecuali dengan metode para rasul yang menyampaikan wahyu Allah.”[2]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin mengungkapkan, “Sifat (dan nama) Allah termasuk perkara ghaib. Dalam perkara ghaib ini dan yang semisalnya, manusia wajib mengimaninya sesuai dengan apa yang termaktub (dalam mash) tanpa merujuk ke hal lain selain nash.”[3]

Abdurrahman bin Qasim berkata, “Tak selayaknya bagi seseorang untuk menyifati Allah kecuali dengan apa-apa yang memang Allah sifatkan mengenai diri-Nya dalam Al-Qur’an.”[4]

As-Sajzi berkata, “Para imam telah sepakat bahwa sifat/nama Allah tidak disarikan kecuali berdasarkan wahyu, demikian pula penjelasannya. Tidak boleh menyifati Allah kecuali dengan hal-hal yang memang Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan tentang diri-Nya sendiri.”[5]

II.  MENGENAL ISITLAH ILHAD 

Dalam perbicangan para ulama dalam kitab-kitab mereka, pada tema nama dan sifat Allah, terdapat istilah Ilhad.

Apa definisi ilhad?

Menurut Syaikh Dr Shalih Fauzan Al-Fauzan, secara bahasa, ilhad bermakna kecondongan/pembelokan dan berpaling dari sesuatu.[6]

Dalam terminologi pada pembahasan nama dan sifat Allah, masih dalam penjelasan Dr Shalih Fauzan Al-Fauzan, ilhad bermakna, “Membelokkan/memalingkan nama-nama dan sifat Allah dari hakikat dan makna yang benar ke arah (konsep) yang bathil.”[7]

Kalau diungkapkan secara sederhana, ilhad bisa dimaknai sebagai pemindahan/pengubahan nama-nama dan sifat-sifat Allah dari konsep yang valid baik itu hakikat maupun maknanya ke konsep yang amat keliru/salah. Dengan catatan bahwa timbangan ‘valid’ di sini sesuai/berdasarkan dengan kaidah yang digariskan para ulama.

Ragam-ragam ilhad

Syaikh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais, membawakan ungkapan Ibnul Qayyim yang merangkum 5 jenis ilhad dalam nama-nama dan sifat Allah[8]. Begitu pula Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin membawakan 5 jenis/katagori ilhad dan menjelaskannya dengan bagus dalam kitab beliau Syarh Aqidah Washithiyyah.

Salah satu jenis ilhad, berdasarkan tema catatan ini, adalah seperti yang diungkapkan syaikh Utsaimin:

أن يسمى الله بما لم يسم به نفسه كما سماه الفلاسفة: علة فاعلة, وسماه النصارى : أبا وعيسى : الابن, فهذا إلحاد في أسماء الله, وكذلك لو سمى الله بأى اسم لم يسم الله به نفسه فهو ملحد في أسماء الله

“Menamakan Allah dengan istilah-istilah yang Allah sendiri tidak namakan mengenai dirinya sendiri. Seperti para filosof menamakan Allah dengan (علة فاعلة) demikian pula Nashrani yang menamakan Allah dengan Abun (Bapak) dan Isa dengan Al-Ibnu (Anak Allah). Ini termasuk ilhad dalam nama-nama Allah.

 Termasuk pula sekiranya Allah dinamakan dengan nama-nama yang memang Allah tidak namai mengenai diri-Nya sendiri. Orang yang melakukan hal ini termasuk orang yang melakukan ilhad dalam nama-nama Allah.”[9]

III.  ALLAH MENCELA ILHAD

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin mengungkapkan bahwa penamaan Allah dengan nama-nama yang memang Allah tidak namai merupakan bentuk adab yang buruk kepada Allah. Hal ini termasuk ilhad yang merupakan kedzhaliman dan penyerangan terhadap hak Allah.[10]

Syaikh Shalih Fauzan menyebutkan bahwa mulhiduun (orang-orang yang melakukan ilhad dalam nama-nama dan sifat Allah diancam dengan ancaman yang paling keras oleh Allah[11]. Syaikh kemudian membawakan firman Allah:

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaulhusna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.[12]

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais mengungkapkan dengan tegas:

فكل ما نص عليه كتاب الله وحديث رسول الله صلى الله عليه وسلم وجب الإيمان به فمن أنكر أو ألحد فإنه يخشى عليه الكفر  بعد ثبوت الحجة عليه

“Wajib mengimani hal-hal yang diungkapkan oleh Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang mengingkari atau melakukan ilhad maka ditakutkan ia ditimpa kekufuran setelah ditegakkan hujjah.”[13]

Setelah ungkapan beliau ini, syaikh kemudian membawakan ucapan tegas Imam Syafi’i:

“Allah memiliki nama-nama dan sifat. Al-Qur’an turun dengan menyebutkan nama dan sifat ini. Nabi pun mengabarkan hal ini. Tidak boleh bagi seorang hamba Allah untuk menolak nama-nama dan sifat ini setelah ditegakkan hujjah karena Al-Qur’an turun dengan membawanya. Begitu pula telah valid ungkapan Rasulullah tentang tema ini.

Siapa yang menyelisihinya setelah tegaknya hujjah maka dia kafir kepada Allah namun jika belum ditegakkan hujjah maka ia dimaafkan karena ketidaktahuannya.”[14] 

IV.  BERBICARA TENTANG ALLAH TANPA ILMU

Ilhad juga termasuk berbicara tentang ilmu. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

“Ketika anda menyifati Allah dengan sifat yang memang tidak Allah sifatkan tentang diri-Nya maka sungguh anda telah berbicara tentang sesuatu hal yang tak anda ilmui. Ini jelas haram berdasarkan nash Al-Qur’an.”[15]

KESIMPULAN

1. Wajib mengimani nama-nama Allah yang diungkapkan Allah dalam menamakan diri-Nya sendiri.

2. Ahlussunnah menetapkan nama-nama Allah sesuai dengan nama-nama yang Allah sebutkan melalui wahyu-Nya.

3. Manusia, dengan akalnya yang terbatas, tidak berhak memberikan nama kepada Allah karena ini adalah hak Allah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.

4. Penamaan Allah dengan nama-nama yang tidak berdasarkan wahyu atau penyelewengan terhadap nama yang ada termasuk salah satu katagori ilhad.

5. Begitu banyak ungkapan tegas dari para ulama tentang ilhad termasuk dari Imam Syafi’i.

6. Ilhad juga terrmasuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

7. Nama-nama Allah yang disebutkan oleh masyarakat kita di daerah masing-masing termasuk kekeliruan fatal. Namun ini karena ketidaktahuan mereka tentang syariat.

Semoga Allah tetap memperbaiki urusan kita baik di dunia maupun akhirat.

Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

***

Mataram, Lantai 3 Masjid ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Lombok. Mendung menjelang waktu Ashar 01 Muharram 1434 H/15 Nopember 2012 M

Penulis: Abdullah Akiera Van As-Samawiey

Referensi Utama:

1. Al-Qur’an digital dan terjemahannya.

2. Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda wa Ar-Rasyad fiy Bayan Haqiyqah at-Tauhid Rabb al-‘Ibad oleh syaikh Dr Muhammad ‘Abdurrahman Al-Khumais. Penerbit Maktabah Al-Furqan, ‘Ajman, Uni Emirat Arab.

3. Kitab Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin. Penerbit Daar Al-Aqiidah, Al-Qahirah, Mesir

4. Kitab Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh Syaikh Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan. Penerbit Daar As-Salafiyyah, Nigeria.

End Notes:

[1] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Utsaimin, hal 47.

[2] Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda …, hal 116.

[3] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Utsaimin, hal 48.

[4] Ushul As-Sunnah Libni Abi Zamnin, 1/212. Dikutp dari Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda …, hal 116.

[5] Kitab Al-Harf wa As-Shaut, hal 139. Dikutp dari Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda …, hal 116.

[6] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Fauzan, hal 24.

[7] Ibid.

[8] Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda …, hal 112.

[9] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Utsaimin, hal75.

[10] Ibid

[11] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Fauzan, hal 25

[12] QS Al-A’raf: 180

[13] Kitab Mukhtashar Sabil Al-Huda …, hal 116.

[14] Ibid

[15] Syarh Aqidah Al-Washithiyyah oleh syaikh Utsaimin, hal. 48

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.