Hukum Menggunakan Kateter Arteri dan Urin, Tablet Vaginal & Suppositoria (Obat/Pencahar) : Apakah Membatalkan Puasa ?

PEMBATAL KEDUA BELAS : Arteri kateterisasi

As-Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih

 

Yaitu suatu tabung (pipa) halus yang masukmelalui arteri dengan tujuan untuk pengobatan atau pengambilan gambar.

Majma’ al-Fiqhi al-Islami berpendapat bahwa hal initidak membatalkan puasa, karena bukan makanan atau minuman, dan bukan pula sesuatu yang semakna dengan keduanya, juga karena ia tidak masuk ke dalam perut.

PEMBATAL KEEMPAT BELAS :  Supositoria (obat dari zat semi padat)yang digunakan melalui kemaluan wanita

Misalnya: Vagina lotion.

Apakah membatalkan puasa ataukah tidak?

Para ulama terdahulu dan sekarang telah berbicara tentangnya:

Menurut kalangan madzhab Malikiyah dan Hanabilah, bahwa jika seorang wanita meneteskan suatu cairan pada kemaluannya, maka dia tidak batal puasanya.

Mereka beralasan, karena tidak ada hubungan antara kemaluan wanita dengan perut.

Pendapat kedua adalah pendapatnya madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah, bahwa wanita itu berbuka karena sebab itu.

Alasan mereka, karena ada hubungan antara kemaluan wanita dan perut.

Kedokteran modern menjelaskan, bahwa tidak ada jalan (saluran) antara alat reproduksi wanita dengan perut wanita. Berdasarkan hal ini, maka dia tidak berbuka dengan sebab hal ini.

PEMBATAL KELIMA BELAS : Supositoria (obat dari zat semi padat) yang digunakan melalui dubur

Digunakan untuk berbagai tujuan medis; (seperti) untuk meringankan panas dan meringankan sakit wasir.

Misalnya adalah enema (prosedur pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus)

Pertama: Enema (Pencahar)

Para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya:

Para imam yang empat berpendapat bahwa hal ini membatalkan puasa, karena adanya saluran hubungan dengan perut.

Pendapat kedua adalah pendapat Zhahiriyah dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Bahwa hal ini tidak membatalkan puasa, karena hal ini sama sekali tidak memberikan nutrisi makanan, akan tetapi bahkan mengosongkan apa yang ada pada badan, sebagaimana seseorang yang mencium sesuatu pencahar.

Juga karena cairan ini tidak sampai ke perut.

Adapun para ulama kontemporer, mereka membangun perselisihan pendapat ini di atas perselisihan pendapat yang telah lalu.

Lalu, apakah di sana ada hubungan antara anus dan perut?!

Ulama yang berpendapat membatalkan puasa, mengatakan adanya hubungan. Lubang dubur memiliki hubungan dengan rektum. Dan rektum terhubung dengan kolon (usus besar). Sedangkan penyerapan makanan terjadi pada usus kecil. Dan mungkin terjadi penyerapan sebagian unsur garam dan gula pada usus besar.

Adapun jika yang diserap bukan zat-zat makanan, seperti obat-obatan, maka tidak membatalkan puasa. Hal itu karena tidak mengandung nutrisi makanan ataupun air.

Perincian ini lebih dekat kepada kebenaran.

 

Kedua: supositori yang melalui jalan dubur, ada dua pendapat.

Tidak membatalkan puasa. Inilah pendapat Ibnu Utsaimin – rohimahulloh – karena hanya mengandung unsur-unsur obat, dan tidak mengandung cairan nutrisi. Maka hal ini bukanlah makanan atau minuman, dan bukan pula yang semakna dengan keduanya.

Inilah pendapat yang benar.

PEMBATAL KEENAM BELAS :  Anoscope (Alat untuk melihat bagian dalam dubur)

Seorang dokter terkadang memasukkan anoscope ke dalam lubang anus untuk mengetahui keadaan usus.Penjelasan tentang ini sama dengan penjelasan tentang endoscopy.

PEMBATAL KETUJUH BELAS : Sesuatu yang dimasukkan melalui saluran kemaluan laki-laki berupa alat untuk melihat, lotion ataupun obat

Apakah hal ini membatalkan puasa?!

Pada zaman lalu para ulama telah membicarakannya:

Pendapat pertama, pendapat kalangan madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah:

Penyulingan dalam uretra tidak membatalkan puasa, meskipun sampai pada kandung kemih.

Mereka berdalil, bahwa tidak ada jalan penghubung antara bagian dalam kemaluan laki-laki dengan perut.

Pendapat kedua, pendapat yang dianggap benar menurut kalangan Syafi’iyah:

Bahwa hal itu membatalkan puasa, karena adanya jalan penghubung antara kandung kemih dan perut.

Dan dalam dunia kedokteran modern: Tidak ada hubungan sama sekali antara saluran kemih dan sistem pencernaan. Berdasarkan hal ini, maka tidak membatalkan puasa.

Sumber :  http://www.direktori-islam.com/2009/09/pembatal-puasa-era-modern/

Disalin dari artikel blog dr. Abu Hana untuk blog Abu Abdurrohman

ISLAM BICARA TENTANG SIHAQ (LESBI/LESBIAN)

Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida

Sihaq (lesbi) adalah apa yang terjadi antara wanita dengan wanita berupa gesekan duafarji (kemaluan wanita).

A. Definisi Lesbi

Berkata penulis kamus Al-Lisan[1], “kata اَلسَّحْقُ artinya ialah yang lembut dan yang halus, dan مُسَاحَقَةُ النِّسَاءِ adalah  kalimat lafal yang terlahir (darinya).”

Ibnu Qudamah berkata dalam kitabnya Al-Mughni (10/162), “Jika telah bergesek dua wanita maka keduanya melakukan zina yang terlaknat berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasanya Beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,

” إِذَا أَتَتِ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَهُمَا زَانِيَتَانِِ “

“Apabila seorang wanita mendatangi (menyetubuhi) seorang wanita maka keduanya berzina.” tidak ada batasan dalam hal ini pada keduanya karena tidak ada ilaj [2]( إِيْلاجٌ ) di dalamnya.

Maka hal itu serupa dengan mubasyaroh [3]( مُبَاشَرَةٌ )tanpa farji dan keduanya harus dihukum karena telah berbuat zina yang tidak ada batasan di dalamnya, persis dengan seorang lelaki yang menggauli wanita tanpa jima’ (hubungan intim).”

Al-Imam Al-Alusi berkata di dalam Ruhul Ma’ani, Jilid ke-8, hlm. 172-173, setelah berbicara tentang gay dan kejelekannya, beliau Rahimahullah berkata,

” وَأُلْحِقَ بِهَا السِّحَاقُ وَبَدَا أَيْضًا فِيْ قَوْمِ لُوْطٍ، فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَأْتِي الْمَرْأَةَ “

“Sihaq (lesbi) masuk dalam kategori liwat yang juga terjadi pada kaum Luth, yaitu seorang wanita menyetubuhi wanita.”

Dari Hudzaifah Radhiallaahu ’anhu,

“إِنَّمَا حَقُّ الْقَوْلِ عَلَى قَوْمِ لُوْطٍ حِيْنَ اسْتَغْنَى النِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ ، وَالرِّجَالُ بِالرِّجَالِ”

“Sesungguhnya benarlah ucapan (Allah Subhaanahu wa Ta’ala) atas kaum Luth tatkala kaum wanita (dari mereka) merasa cukup dengan para wanita dan kaum lelaki merasa cukup dengan para lelaki.”[4]

Diriwayatkan dari Abu Hamzah, beliau berkata, ”Saya pernah mengatakan kepada Muhammad bin Ali bahwa:

“عَذَّبَ اللهُ نِسَاءَ قَوْمِ لُوْطٍ لِعَمَلِ رِجَالِهِمْ”’

“Allah ’Azza Wa Jalla mengadzab para wanita kaum Luth karena perbuatan para lelaki mereka?”

Kemudian, Muhammad bin Ali berkata:

“اَللهُ أَعْدَلُ مِنْ ذَلِكَ ، اِسْتَغْنَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ”

“Allahk lebih adil dari itu (adanya adzab) karena, kaum lelaki telah merasa cukup dengan para lelaki dan kaum wanita telah merasa cukup dengan para wanita.”[5]

B. Hukuman Perbuatan Sihaq (Lesbi)

Kita telah melihat apa yang dinukil oleh sebagian (ulama) tentang hukuman Allah Subhaanahu wa ta’ala  terhadap para wanita kaum Luth bersamaan dengan para lelaki mereka, yaitu ketika para lelaki merasa cukup dengan kaum lelaki maka hukumannya pun telah diketahui, tidaklah samar bagi seorang pun.

Meskipun Ibnul Qayyim berkata,

” وَلَكِنْ لاَ يَجِبُ الْحَدُّ بِذَلِكَ لِعَدَمِ الإِيْلاَجِ، وَإِنْ أُطْلِقَ عَلَيِهِمَا اسْمُ الزِّنَا الْعَامُ كَزِنَا الْعَيْنِ وَالْيَدِ وَالرَّجُلِ وَالْفَمِ “

“Akan tetapi, tidaklah wajib padanya (yaitu dalam perbuatan lesbi) hukuman (bunuh) karena tidak adanya ilaj walaupun disematkan kepada keduanya[6] nama zina secara umum, seperti zina mata, zina tangan, zina kaki, dan zina mulut.”[7]

Demikian juga, Selain beliau ada yang berkata,

” أَنَّهُ لَيْسَ فِيْهِ إِلاَّ التَّعْزِيْرُ “

“Tidaklah ada pada perbuatan lesbi, kecuali ta’zir[8].

Akan tetapi, tidaklah hal tersebut menjadikan kita untuk menyepelekan dan menganggap remeh dosa lesbi karena seorang wanita jika menjalani dosa tersebut, ia telah meletakkan kedua kakinya di atas jalan pebuatan yang keji. Ia akan melakukan yang selain dari itu dengan lebih cepat, jika terbuka sebuah kesempatan (baginya). Dan jika hukumannya berupa ta’zir (hukuman selain dibunuh), apakah setiap wanita yang melakukan hal tersebut akan pergi untuk dita’zir dan disucikan atau hukumannya ditangguhkan sampai (datang) hari kerugian dan penyesalan?

وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ

“Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34)

SUMBER :

Buku SEKS BEBAS UNDERCOVER (Halaman 84-87), Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida, Penerjemah Syuhada abu Syakir Al-Iskandar As-Salafi, Penerbit Toobagus Publishing, Bandung. Ditulis untukhttp://kaahil.wordpress.com

 


[1] Lisaanul ‘Arab pada judul سحق.

 

[2] Ilaj ( إِيْلاجٌ ) ialah masuknya kepala zakar pria pada kemaluan wanita.

[3] Mubasyarah (مُبَاشَرَةٌ )ialah hubungan badan antara suami dan istri.

[4] Para perawi hadits ini terpercaya, hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iimaan dan oleh As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsuur (3/100).

[5] Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Abiddunya dan Ibnu ‘Asakir.

[6] Yang dimaksud oleh Ibnul Qayyim dengan ucapannya “kepada keduanya” ialah seorang lelaki menggauli lelaki lain dengan kemaluan tanpa adanya ilaj dan seorang wanita yang menggauli wanita lain maka tidak terjadi ilaj padanya.

[7] Al-Jawaab Al-Kaafi, hlm. 201.

[8] Ta’zir adalah hukuman bagi para pelaku maksiat tidak sampai dibunuh.

disalin dari blog dr. Abu Hana

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.