Meminta Bantuan Jin

Meminta Bantuan Jin

hukum meminta bantuan jin

Hukum Meminta Bantuan Jin

Pertanyaan:

Assakamu’alaikum saya ingin bertanya:

- Bagaimanakah hukumnya meminta dan berteman dengan jin muslim/kafir?

- Lalu bagaimanakah saya harus menjawab ketika seorang teman saya berkata “Nabi Sulaiman saja berteman dan meminta bantuan jin

Mohon petunjuknya Ustadz.

Terima kasih

Wassalamu’alaikum

Dari: Fajar

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,

Kesimpulan yang benar, bahwa meminta bantuan atau bekerja sama dengan jin bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak. Karena jin termasuk makhluk Allah yang mendapatkan beban aturan syariat sebagaimana manusia. Hubungan kita dengan jin tidak lebih dari muamalah dua jenis makhluk Allah Ta’ala.

Sebagaimana aturan yang belaku ketika kita bekerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu boleh dilakukan, selama dilakukan dengan cara yang mubah dan untuk tujuan yang mubah. Sebaliknya, kerja sama ini bernilai dosa dan terlarang, jika dilakukan dengan cara terlarang atau untuk tujuan terlarang.

Syaikhul Islam dalam Majmu al-Fatawa, memberikan rincian yang sangat apik, terkait hukum bekerja sama dengan jin:

1. Manusia menyuruh jin untuk melakukan apa yang Allah dan rasul-Nya perintahkan, seperti beribadah kepada Allah semata, atau menaati Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebaliknya, jin menyuruh manusia untuk melakukan yang sama, maka jin dan manusia ini termasuk wali Allah yang mulia, di samping itu, dia merupakan penerus dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Manusia yang bekerja sama dengan jin dalam masalah yang mubah, sementara dia tetap berusaha menyuruh melakukan kewajiban syariat atau meninggalkan larangan syariat, dan dia meminta jin untuk melakukan sesuatu yang mubah, maka dalam kasus ini sama seperti penguasa yang menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu.

3. Manusia memerintahkan jin untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik untuk melakukan kesyirikan, membunuh orang yang tidak bersalah, mengganggu orang namun tidak sampai membunuh, misalnya mengirim penyakit, membuat gila, atau kezaliman lainnya, atau membantu dalam perbuatan maksiat yang diminta oleh manusia, berarti dia telah meminta tolong jin untuk melakukan perbuatan dosa dan melampaui batas. Jika dia minta tolong jin untuk melakukan kekafiran maka manusia itu kafir, dan jika dia meminta tolong jin untuk melakukan kemaksiatan maka dia orang fasik atau pelaku perbuatan dosa… (Majmu’ Fatawa, 11: 307 – 308)

Adapun Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, Allah taklukkan jin untuk tunduk di bawah kerajaan beliau. Allah halangi mereka, sehingga tidak bisa menyimpang atau melakukan kerusakan. Allah berfirman:

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan Kami yang menjaga mereka itu.” (QS. Al-Anbiya: 82)

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:

“Maksud ayat, Allah lindungi Sulaiman sehingga tidak terkena tindakan jahat setan, bahkan sebaliknya, semua setan berada di bawah genggamannya dan kekuasaannya. Tidak ada satupun setan yang mampu mendekatinya. Beliau mengusai mereka, jika beliau mau, beliau bisa lepaskan setan atau sebaliknya, beliau bisa penjarakan setan. Allah berfirman,

وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ

Setan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (QS. Shad: 38)

(Tafsir Ibn Katsir, 5:359)

Referensi: Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 65551

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Halal bi Halal

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun XV)
Kegiatan apapun di hari raya yang tidak terkait dengan masalah peribadatan adalah kegiatan yang sah-sah saja dilakukan jika hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa gembira, seperti makan bersama, bertemu keluarga dan handai tolan. Sebab memang diperbolehkan kaum Muslimin mengungkapkan kegembiraan hatinya pada saat hari raya, sepanjang hal itu tidak menyimpang dari ketentuan syar’i.

Yang menjadi masalah, terdapat banyak hal yang menyimpang dari ketentuan syari’at, sepertiikhtilath (bercampur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram), jabat tangan antar lawan jenis (yang bukan mahram), hura-hura, pamer aurat, pamer kecantikan, nyanyian-nyanyian maksiat, main petasan dan lain sebagainya. Bahkan mungkin menyangkut masalah peribadatan yang tidak ada contohnya dari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam maupun dari para Sahabat Beliau radhiyallâhu ‘anhum.

Sesungguhnya Idul Fitri atau Idul Adha merupakan kegiatan yang pelaksanaan serta tata caranya telah diatur dalam syari’at. Tetapi di dalamnya mengandung hal-hal yang bersifat bebas selama tidak bertentangan dengan syari’at.

Hukum asal dalam masalah ibadah adalah haram (dilakukan) sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam masalah adat dan muamalah, hukum asalnya adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya (‘id) sebenarnya lebih dekat kepada masalah mu’amalah. Akan tetapi, dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa ‘id adalah tauqifi (harus berlandaskan dalil). Hal ini karena ‘id tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Imam asy-Syâthibi rahimahullâh mengatakan :

وَإِنَّ الْعَادِيَّاتِ مِنْ حَيْثُ هِيَ عَادِيَّةٌ لاَ بِدْعَةَ فِيْهَا،
وَمِنْ حَيث يُتعبَّدُ بِهَا أَوْ تُوْضَعُ وَضْعَ التعبُّدِ تَدْخُلُهَا الْبِدَعَةُ

Dan sungguh adat-istiadat dari sisi ia sebagai adat, tidak ada bid’ah di dalamnya,
tapi dari sisi ia dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid‘ah di dalamnya[1]

PENGKHUSUSAN MEMBUTUHKAN DALIL

Di satu sisi, Islam telah menjelaskan tata cara perayaan hari raya, tapi di sisi lain tidak memberi batasan tentang beberapa sunnah dalam perayaan ‘id, seperti bagaimana menampakkan kegembiraan, bagaimana berhias dan berpakaian, atau permainan apa yang boleh dilakukan. Syariat Islam merujuk perkara ini kepada adat dan tradisi masing-masing. Namun mengkhususkan hari Idul Fitri dengan berma’af-ma’afan membutuhkan dalil tersendiri. Ia tidak termasuk dalam menunjukkan kegembiraan atau berhias yang memang disyariatkan di hari raya. Ia adalah kegiatan tersendiri yang membutuhkan dalil.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat tidak pernah melakukannya, padahal faktor pendorong untuk berma’af-ma’afan juga sudah ada pada zaman mereka. Para Sahabat juga memiliki kesalahan kepada sesama dan mereka adalah orang yang paling bersemangat untuk membebaskan diri dari kesalahan kepada orang lain. Akan tetapi, hal itu tidak lantas membuat mereka mengkhususkan hari tertentu untuk bermaaf-maafan. Jadi, mengkhususkan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan adalah penambahan syariat baru dalam Islam tanpa landasan dalil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Setiap perkara yang dianggap maslahat (kebaikan), sedangkan faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sudah ada, namun Beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat

[1] Al-I’tishâm, Tahqiq: Syaikh Salim al-Hilali, Dar Ibni al-Qoyyim, cet. II, 1427 H/2006 M, II/59
[2] Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, Ta’liq: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Takhrij : Mahmud bin al-Jamil, Dar Ibni Al-Jauzi, cet. I, 1423 H/2002, hal. 386.

Artikel Blog Abu Abdurrohman

Berkah Dari Kejujuran Dalam Bisnis

Kejujuran merupakan ajaran Islam yang mulia. Hal ini berlaku dalam segala bentuk muamalah, lebih-lebih dalam jual beli karena di dalamnya sering terjadi sengketa. Jual beli online adalah di antara jual beli yang ditekankan adanya sifat kejujuran. Kejujuran inilah yang nantinya mendatangkan keberkahan.

Islam Mengajarkan Sifat Jujur

Dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. At Taubah: 119).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS. Muhammad: 21)

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim).

Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, hasan shahih). Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa.

Penekanan Sifat Jujur bagi Pelaku Bisnis

Terkhusus lagi, terdapat perintah khusus untuk berlaku jujur bagi para pelaku bisnis karena memang kebiasaan mereka adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.

Dari Rifa’ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ

Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih dilihat dari jalur lain).

Contoh bentuk penipuan yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى »

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim). Jika dikatakan tidak termasuk golongan kami, maka itu menunjukkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban, shahih).

Lebih-lebih sifat jujur ini ditekankan pada pelaku bisnis online karena tidak bertemunya penjual dan pembeli secara langsung. Si penjual kadang mengobral janji, ketika dana telah ditransfer pada rekening penjual, barang pun tak kunjung datang ke pembeli. Begitu pula sebagian penjual kadang mengelabui pembeli dengan gambar, audio dan tulisan yang tidak sesuai kenyataan dan hanya ingin menarik pelanggan.

Jujur Kan Menuai Berkah

Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu” (Muttafaqun ‘alaih).

Di antara keberkahan sikap jujur ini akan memudahkan kita mendapatkan berbagai jalan keluar dan kelapangan. Coba perhatikan baik-baik perkataan Ibnu Katsir rahimahullah ketika menjelaskan surat At Taubah ayat 119. Beliau mengatakan, “Berlaku jujurlah dan terus berpeganglah dengan sikap jujur. Bersungguh-sungguhlah kalian menjadi orang yang jujur. Jauhilah perilaku dusta yang dapat mengantarkan pada kebinasaan. Moga-moga kalian mendapati kelapangan dan jalan keluar atas perilaku jujur tersebut.”

Moga kita selaku muslim bisa terus mengagungkan sifat jujur. [@ Panggang-Gunung Kidul, 5 Ramadhan 1433 H]
Disalin dari artikel Muhammad Abduh Tuasikal untuk Blog Abu Abdurrohman

DOWNLOAD AUDIO : Download Kajian MP3 kitab Kitabul Adab karya Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub oleh Ustadz Aris Munandar, SS. MA.

KITABUL ADAB 
Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara yang remeh. Ia mendapatkan perhatian serius yang tidak didapati pada tatanan lain. Hal ini dikarenakan syariat Islam adalah kumpulan dari aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Ini semua tidak bisa dipisah-pisahkan. Manakala seseorang mengesampingkan salah satu dari perkara-perkara tersebut, misalnya akhlak atau adab, maka akan terjadi ketimpangan dalam perkara dunia dan akhiratnya.Demikian penting perkara ini, hingga para ulama menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab. Maka sudah selayaknya bagi kita untuk bersemangat mempelajari dan mengamalkan adab-adab yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

Mari kita simak bersama rekaman kajian Kitabul Adab karya Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub yang kali ini dikupas secara ilmiah oleh Ustadz Aris Munandar, SS. MA.
Kajian ini dahulu diselenggarakan di Masjid Pogung Raya dan Masjid al-‘Ashri, Yogyakarta (wilayah sekitar utara Fakultas Teknik UGM) setiap hari Sabtu dan Ahad pagi.
~ Jazakumullahu khairan kepada ikhwan-ikhwan di Yogyakarta
yang telah memudahkan kami untuk mendapatkan files kajian ini ~
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat, dan selamat menyimak.
Pertemuan 1
Muqaddimah
Adab Membaca al-Qur’an
1. Memperhatikan niat ikhlas ketika mempelajari al-Qur`an dan membacanya.
2. Mengamalkan kandungan al-Qur`an.
3. Anjuran untuk selalu mengingat al-Qur`an dan selalu menjaganya.
4. Janganlah engkau mengatakan, “Saya telah lupa (ayat atau surat al-Qur`an)”, tetapi katakanlah, “Saya telah dibuat lupa, hafalanku hilang, atau telah dibuat lupa.”
 Pertemuan 2
5.  Wajibnya menghayati (mentadabburi) kandungan al-Qur`an.
6. Bolehnya membaca al-Qur`an sambil berdiri, berjalan, berbaring, dan di atas kendaraan.
7. Tidak menyentuh al-Qur`an kecuali orang yang berada dalam keadaan suci.
8. Dibolehkan membaca al-Qur`an dari hafalannya bagi orang yang berhadats kecil.
Pertemuan 3
 9. Bolehnya membaca al-Qur`an bagi wanita yang sedang haidh maupun nifas.
 10. Disunnahkan membersihkan mulut dengan siwak sebelum membaca al-Qur`an.
 11. Disunnahkan membaca isti’adzah dan basmalah ketika memulai membaca al-Qur`an.
 12. Disunnahkan membaca al-Qur`an secara tartil dan dimakruhkan membaca al-Qur`an dengan cepat.
 13. Disunnahkan memanjangkan bacaan al-Qur`an.
 
 Pertemuan 4
 14. Disunnahkan membaguskan suara ketika membaca al-Qur`an
dan larangan membacanya menyerupai orang yang bernyanyi.
 15. Menangis ketika membaca al-Qur`an atau ketika mendengarnya.
 16. Disunnahkan mengeraskan bacaan al-Qur`an jika memang tidak menimbulkan mafsadah.
Pertemuan 5
 17. Batasan yang dianjurkan dalam mengkhatamkan al-Qur`an.
 18. Disunnahkan berhenti membaca al-Qur`an ketika diserang rasa kantuk.
 19. Disunahkan untuk menyambung bacaan al-Qur`an dan tidak memotong-motongnya.
 20. Disunnahkan mengucapkan tasbih ketika membaca ayat-ayat tasbih,
atau berta’awwudz ketika membaca ayat-ayat tentang adzab,
dan memanjatkan doa ketika membaca ayat-ayat rahmat.
 21. Disunnahkan melakukan sujud tilawah ketika membaca ayat-ayat sajdah.
 22. Dimakruhkan mencium mush-haf dan menempelkannya di antara dua mata (dahi).
 
 Pertemuan 6
 23. Dimakruhkan menggantungkan ayat-ayat al-Qur`an di dinding dan selainnya.
Adab Mengucapkan Salam
 1. Di antara perkara yang disunnahkan adalah membiasakan diri untuk saling memberi dan menyampaikan salam serta kewajiban untuk menjawabnya.
Pertemuan 7
 2. Sifat salam.
 3. Dimakruhkan mengucapkan salam hanya dengan kalimat “‘alaikassalaam”.
 4. Disunnahkan mengulangi salam hingga tiga kali apabila salam itu disampaikan kepada jama’ah yang banyak, atau ketika ragu apakah mereka mendengar salamnya atau tidak.
  5. Disunnahkan mengeraskan suara ketika memberi salam, begitu pula sebaliknya.
 6.Termasuk sunnah adalah menyamaratakan salam, yaitu mengucapkan salam kepada orang yang kita kenal maupun kepada orang yang tidak kita kenal.
 7. Disunnahkan bagi orang yang datang terlebih dahulu mengucapkan salam.
 8. Orang yang berkendara disunnahkan memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, demikian pula orang yang berjalan kepada orang yang duduk,
orang yang sedikit kepada orang banyak, dan yang kecil (muda) kepada yang besar (lebih tua).
 9. Mengucapkan salam kepada wanita asing (wanita yang bukan mahram).
 
 Pertemuan 8
 10. Disunnahkan memberi salam kepada anak-anak kecil.
 11. Mengucapkan salam kepada orang yang terjaga sedangkan di sekitarnya ada orang yang sedang tidur.
 12. Larangan mengucapakan salam kepada ahli kitab.
 13. Menjawab salamnya ahli kitab dengan mengucapkan “wa’alaikum”.
 14. Dibolehkan mengucapkan salam kepada sebuah perkumpulan yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum kafir.
Pertemuan 9
 15. Dibolehkan memberikan salam dengan isyarat karena udzur.
 16. Dibolehkan mengucapkan salam kepada seseorang yang sedang shalat dan dibolehkan menjawab salam – bagi orang yang shalat – dengan menggunakan isyarat.
 17. Dibolehkan memberi salam kepada orang yang sedang membaca al Qur`an, dan ia wajib menjawabnya.
 18. Dimakruhkan mengucapkan salam kepada orang yang sedang berada di dalam WC.
 19. Disunnahkan mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.
 20. Menjawab salam untuk orang yang mengirimkan salam kepadanya
dan kepada orang yang dititipi salam.
 21. Mendahulukan shalat tahiyyatul masjid sebelum mengucapkan salam
ketika seseorang masuk ke dalam masjid.
 22. Dimakruhkan mengucapkan salam ketika mendengarkan khutbah jum’at.
 23. Mendahulukan salam sebelum berbicara.
 24. Salam kepada pelaku maksiat dan pelaku bid`ah.
 25. Disunnahkan mengucapkan salam ketika berpisah dari majelis.
 
 Pertemuan 10
Adab Meminta Izin
 1. Disunnahkan mendahuluinya dengan salam sebelum meminta izin.
 2. Hendaklah orang yang meminta izin berdiri di sebelah kanan atau sebelah kiri pintu.
 3. Seseorang diharamkan memandang (mengintip) ke dalam rumah orang lain tanpa izin pemiliknya.
 4. Meminta izin itu hanya tiga kali.
 5. Tidak dibolehkan hanya mengatakan, “saya” (tanpa menyebutkan nama)
ketika meminta izin jika ia ditanya, “siapa itu?”.
 6. Sudah sepantasnya orang yang meminta izin tidak mengetuk pintu terlalu keras.
 7. Jika pemilik rumah menyuruh orang yang meminta izin untuk kembali,
maka ia harus kembali.
 8. Tidak dibolehkan memasuki rumah orang lain yang tidak ada seorang pun di dalamnya.
 9. Apabila seseorang diundang atau dikirim kepada orang lain seorang utusan, maka ia tidak perlu meminta izin.
 10. Meminta izin ketika hendak berdiri dan meninggalkan majelis.
 11. Meminta izin kepada ibu, saudara perempuan, dan orang-orang yang memiliki hukum yang sama dengan keduanya (dalam kekerabatan).
 12. Disunnahkan memberi kabar terlebih dahulu kepada istri ketika akan masuk rumah.
 13. Para pembantu dari kalangan budak dan anak-anak yang belum baligh
diharuskan meminta izin dalam tiga keadaan.
Pertemuan 11
Adab Ketika Berjumpa
 1. Disunnahkan saling berjabat tangan.
 2. Diharamkan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
 3. Disunnahkan tidak melepas tangan ketika berjabat tangan hingga orang yang dijabattangani melepas tangannya telebih dahulu.
 
 Pertemuan 12
 4. Berdiri untuk mengucapkan salam kepada seseorang yang datang.
 5. Apakah seseorang dibolehkan mencium seorang lainnya ketika bertemu?
 6. Haramnya membungkuk dan sujud di saat memberi salam.
Pertemuan 13
Adab Berkunjung
 1. Ziarah di selain tiga waktu yang disebutkan dalam ayat al-isti`dzan.
 2. Hendaklah orang yang berziarah tidak menjadi imam shalat bagi pemilik rumah, dan tidak duduk di permadaninya kecuali dengan izinnya.
 3. Meminimalkan intensitas ziarah.
Adab Bertamu
 1. Memenuhi undangan.
 
 Pertemuan 14
 2. Memuliakan tamu adalah wajib.
 3. Disukainya menyambut para tamu.
 4. Ucapan tamu jika ia diikuti seseorang yang tidak diundang.
 5. Berlebih-lebihan dalam menjamu tamu.
 6. Masuk dengan izin dan pulang setelah memakan jamuan.
 7. Mendahulukan yang lebih tua dan mendahulukan yang berada di sebelah kanan, baru yang selanjutnya.
 8. Doa yang diucapkan tamu setelah memakan jamuan makanan.
 9. Disunnahkan keluar bersama tamu (mengantarnya) hingga ke pintu.
Pertemuan 15
Adab Bermajelis
 1. Keutamaan dzikrullah dalam majelis dan larangan diadakannya majelis yang tidak disebut nama Allah di dalamnya.
 2. Memilih rekan semajelis.
 3. Ucapan salam untuk orang yang berada di majelis ketika datang dan pergi.
 4. Dimakruhkan menyuruh seseorang berdiri dari tempat duduknya kemudian ia duduk di tempat tersebut.
 5. Melapangkan majelis.
 6. Tidak boleh memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya.
  
 Pertemuan 16
 7. Duduk di bagian akhir dari majelis.
 8. Larangan dua orang berbicara (dengan berbisik) tanpa melibatkan orang ketiga.
 9. Larangan menyimak pembicaraan orang lain tanpa izin.
 10. Sikap duduk yang terlarang.
 11. Larangan banyak tertawa.
 12. Makruhnya bersendawa di tengah beberapa orang.
 13. Disunnahkan menutup (mengakhiri) majelis dengan bacaan kaffaratul majelis.
Adab Berbicara
 1. Menjaga lisan.
Pertemuan 17
 2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah.
 3. Kalimat yang baik adalah shadaqah.
 4. Keutamaan sedikit bicara dan makruhnya banyak bicara.
 5. Peringatan akan ghibah dan namimah (mengadu domba).
  
Pertemuan 18
 6. Larangan menceritakan setiap apa yang ia dengar.
 7. Peringatan terhadap kedustaan.
 8. Larangan berbuat keji dan mengucapkan perkataan keji.
Pertemuan 19
 9. Keutamaan meninggalkan perdebatan walau ia berada dalam kebenaran.
 10. Larangan membuat suatu kaum tertawa dengan perkataan dusta.
 11. Apabila seseorang menceritakan sesuatu kepada saudaranya lalu ia berpaling, maka yang diceritakannya adalah suatu amanah .
 12. Mendahulukan yang lebih tua dalam berbicara.
 13. Tidak Memotong Pembicaraan
  
 Pertemuan 20
 14. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.
 15. Merendahkan suara ketika berbicara.
 16. Beberapa lafazh dan kalimat yang harus dihindari.
Pertemuan 21
Adab Makan dan Minum
 1. Larangan makan dan minum menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak.
 2. Larangan makan sambil bertelekan atau menelungkupkan wajah .
  
Pertemuan 22
 3. Mendahulukan makan dari shalat ketika makanan telah dihidangkan.
 4. Mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah makan.
 5. Tasmiyah (mengucapkan “bismillaah”) ketika memulai makan dan minum,
dan mengucapkan hamdalah seusai makan dan minum.

Bagi Anda yang ingin mengetahui keseluruhan poin-poin pembahasan secara global, silahkan klik pada gambar cover buku versi terjemahnya di bawah ini.

Anda juga dapat mengikuti siaran streaming kajian live Ustadz Aris Munandar, SS. MA. melalui http://radiomuslim.com/ setiap hari Sabtu dan Ahad pukul 05.30 WIB. live dari Masjid Pogung Raya dan Masjid al-‘Ashri, Yogyakarta.
(Saat ini sedang dikaji kitab al-Minzhar karya Syaikh Shalih Alu Syaikh
yang membahas tentang berbagai kesalahan-kesalahan
dalam praktek kehidupan kaum muslimin yang perlu diperbaiki)

Membagi Kerugian Dalam Mudharabah

Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

Mudharabah adalah salah satu bentuk syarikah dalam jual beli. Islam telah menghalalkan sistem muamalah ini. Dan Islam telah melegalkan seluruh bentuk syarikah

SYARIKAH ADA DUA JENIS
Pertama : Syarikah Amlaak
Yaitu penguasaan harta secara kolektif, berupa bangunan, barang bergerak atau barang berharga. Yaitu pensyarikahan dua orang atau lebih yang dimiliki melalui transaksi jual beli, hadiah, warisan atau yang lainnya. Dalam bentuk syarikah seperti ini kedua belah pihak tidak berhak mengusik bagian rekan kongsinya, ia tidak boleh menggunakannya tanpa seijin rekannya.

Kedua : Syarikah Uquud
Yaitu perkongsian dalam transaksi, misalnya, dalam transaksi jual beli atau lainnya. Bentuk syarikah seperti inilah yang hendak kami ulas dalam tulisan kali ini. Dalam syarikah seperti ini, pihak-pihak yang berkongsi berhak menggunakan barang syarikah dengan kuasa masing-masing. Dalam hal ini, seseorang bertindak sebagai pemilik barang, jika yang digunakan adalah miliknya. Dan sebagai wakil, jika barang yang dipergunakan adalah milik rekannya.

Syarikah Uquud ini, oleh para ahli fiqih dibagi menjadi lima bagian

[1]. Syariqah Inaan
Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah dengan harta masing-masing untuk dikelola oleh mereka sendiri, dan keuntungan dibagi di antara mereka, atau salah seorang sebagai pengelola dan mendapat bagian lebih banyak dari keuntungan, daripada rekannya.

[2]. Syarikah Mudharabah
Yaitu, seseorang sebagai pemodal menyerahkan sejumlah modal kepada pihak pengelola untuk diperdagangkan, dan dia berhak mendapat bagian tertentu dari keuntungan.

[3]. Sayrikah Wujuuh
Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah terhadap keuntungan dari barang dagangan yang mereka beli bersama tanpa modal. Pendapatan keuntungan dibagi atas dasar kesepakatan di antara mereka.

[4]. Syarikah Abdaan
Yaitu dua orang atau lebih yang bersyarikah pada harta halal hasil usaha mereka masing-masing. Atau bersyarikah pada harta yang mereka terima dari jasa tenaga atau keahlian mereka.

[5]. Syarikah Mufaawadhah
Yaitu masing-masing pihak menyerahakn kuasa penuh atas setiap transaksi materi maupun fisik, dalam bentuk jual beli dan dalam seluruh urusan mereka tanpa menggabungkan ke dalamnya keuntungan atau hutang-piutang yang bersifat pribadi. [1]

Dalam melakukan bentuk kerjasama ini, masing-masing harus menjaga sifat amanah. Apalagi terjadi kecurangan dan penipuan dari salah satu pihak, maka bentuk kerja sama ini batal dengan sendirinya. [2]

Pembahasan masalah syarikah ini sangat panjang. Namun dalam kesempatan kali ini, kita memfokuskan pembicaraan pada salah satu bentuk syarikah, yaitu syarikah mudharabah. Lebih khusus lagi, yakni berkaitan dengan masalah kerugian yang terjadi dalam syarikah mudharabah ini.

Masalah : Pihak pemodal menyerahkan uangnya kepada pihak pengelola, lalu terjadi kerugian dalam usaha tersebut sehingga menghabiskan uang milik pemodal. Maka siapakah yang menanggung kerugian tersebut? Apakah pihak pemodal atau pengelola atau keduanya?

Jawab : Ini adalah bentuk syarikah yang disebut mudharabah. Sebagian orang, yakni penduduk Hijaz menyebutnya qiraadh. Orang-orang umum menyebutnya dhimaar. Yaitu seseorang menyerahkan hartanya untuk dikelola oleh orang lain. Satu pihak disebut pemodal, dan pihak lain disebut pengelola

Kerugian dalam syarikah seperti ini disebut wadhii’ah. Kerugian ini mutlak menjadi tanggung jawab pemodal (pemilik harta), sama sekali bukan menjadi tanggungan pihak pengelola. Dengan catatan, pihak pengelola tidak melakukan kelalaian dan kesalahan prosedur dalam menjalankan usaha yang telah disepakati syarat-syaratnya. Kerugian pihak pengelola adalah dari sisi tenaga dan waktu yang telah dikeluarkannya tanpa mendapat keuntungan.

Pihak pemodal berhak mendapat keuntungan dari harta atau modal yang dikeluarkannya, dan pihak pengelola mendapat keuntungan dari tenaga dan waktu yang dikeluarkannya. Maka kerugian ditanggung pihak pemodal atau pemilik harta. Adapun pihak pengelola, ia mendapat kerugian dari jasa dan tenaga yang telah dikeluarkannya.

Ini adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama, seperti yang telah ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (XXX/82).

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab al-Mughni (V/183) mengatakan, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini”.

Pada bagian lain (V/148), al-Maqdisi mengatakan, kerugian dalam syarikah mudharabah ditanggung secara khusus oleh pihak pemodal, bukan tanggungan pihak pengelola. Karena wadii’ah, hakikatnya adalah kekurangan pada modal. Dan ini, secara khusus menjadi urusan pemilik modal, bukan tanggungan pihak pengelola. Kekurangan tersebut adalah kekurangan pada hartanya, bukan harta orang lain. Kedua belah pihak bersyarikah dalam keuntungan yang diperoleh.

Seperti dalam kerja sama musaaqat dan muzaara’ah, dalam kerja sama ini, tuan tanah atau pemilik pohon bersyarikah dengan pihak pengelola atau pekerja dalam keuntungan yang dihasilkan dari kebun dan buah. Namun, jika terjadi kerusakan pada pohon atau jatuh musibah atas tanah tersebut, misalnya tenggelam atau musibah lainnya, maka pihak pengelola atau pekerja tidak menanggung kerugian sekalipun.

Masalah : Akan tetapi bagaimana hukumnya bila pihak pengelola dan pihak pemodal telah membuat syarat dan kesepakatan, bahwa kerugian yang diderita dibagi dua atau sepertiga ditanggung pihak pengelola, dan selebihnya pihak pemodal?

Jawab : Syarat dan kesepakatan seperti ini bertentangan dengan Kitabullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan.

“Artinya : Mengapa sejumlah orang mengajukan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitabullah? Barangsiapa mengajukan syarat yang tidak ada dalam Kitabullah, maka tidak diterima, meskipun ia mengajukan seratus syarat”. [3]

Ibnu Qudamah al-Maqdisi menegaskan batalnya syarat-syarat ini, tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. [4] Ibnu Qudamah berkata, “Intinya, apabila disyaratkan atas pihak pengelola tanggung jawab terhadap kerugian atau mendapat bagian tanggungan dari wadhii’ah (kerugian), maka syarat itu bathil. Kami mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.

Barangkali para pemodal akan mengatakan : “Kalian para ulama telah membuka pintu seluas-luasnya bagi para pengelola untuk mempermainkan uang kami. Apabila kami menuntutnya, mereka mengatakan, ‘Kami mengalami kerugian”.

Kalau pengelola tadi adalah orang yang lemah iman; lemah imannya kepada hari akhirat dan berani menjual agamanya dengan materi dunia, maka orang seperti inilah yang berani mempermainkan harta kaum muslimin, lalu mereka bersumpah telah mengalami kerugian. Kelonggaran ini bukanlah disebabkan fatwa dan pendapat ahli ilmu. Kewajiban atas pemilik harta adalah, mencari orang yang amanah agamanya dan ahli dalam pekerjaannya. Jika tidak menemukan orang seperti ini, maka hendaklah ia menahan hartanya. Adapun ia serahkan hartanya kepada orang yang tidak amanah dan tidak bisa mengelola lalu berkata, Ahli Ilmu telah membuka pintu bagi pengelola untuk mempermainkan harta kami, maka alasan seperti ini, sama sekali tidak bisa diterima.

Masalah : bolehkah pihak pengelola menanggung kerugian atas kerelaan darinya, tanpa paksaan?

Jawaban : Apabila pihak pengelola turut menanggung kerugan atas kerelaan darinya dan tanpa tekanan dari pihak manapun, maka hal itu dibolehkan, bahkan itu termasuk akhlak yang terpuji. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pada jual beli pertama mereka mendapat keuntungan, lalu pada jual beli kedua mereka mendapat kerugian, apakah keuntungan pada jual beli pertama dibagi dahulu, lalu kerugian pada jual beli kedua menjadi tanggungan pihak pengelola? Ataukah keuntungan itu dipakai untuk menutupi kerugian, lalu sisanya dibagi kemudian?

Jawab : Dalam kasus seperti ini, keuntungan harus digunakan lebih dulu untuk menutupi kerugian. Jika keuntungan tersebut masih tersisa setelah modal ditutupi, maka baru kemudian dibagi kepada pihak pengelola dan pihak pemodal menurut kesepakatan mereka. Demikian yang dijelaskan oleh para ulama.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (V/169) mengatakan :”Masalah, pihak pengelola tidak berhak mengambil keuntungan hingga ia menyerahkan modal kepada pihak pemodal. Apabila dalam usaha terjadi kerugian dan keuntungan, maka kerugian ditutupi dengan keuntungan. Baik kerugian dan keuntungan itu diperoleh dalam satu transaksi, ataupun kerugian terjadi pada transaksi pertama, lalu keuntungan dihasilkan pada transaksi berikutnya. Karena keuntungan itu hakikatnya adalah, sesuatu yang lebih dari modal dasar. Dan apabila tidak lebih, maka belum dihitung sebagai keuntungan. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan dalam masalah ini”.

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnul Mundzir dalam kitab al-Ijma (halaman 112 nomor 534). Beliau rahimahullah berkata :”Para ulama sepakat, bahwa pembagian keuntungn (itu) dibolehkan, apabila pihak pemodal telah mengambil modalnya”.

Hanya saja Ibnu Hazm menyebutkan dalam kitab Maraatibul Ijma, halaman 93, baha para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun kesimpulanya, pendapat yang kuat adalah yang telah kita jelaskan diatas.

Apabila keuntungan telah dihitung dan dibagikan, dan masing-masing pihak telah mengambil bagian dari keuntungan, lalau setelah itu terjadi kerugian, maka dalam kasus ini, pihak pengelola tidak berhak memaksa pihak pemodal untuk menutupi kerugian dan keuntungan yang telah dibagikan, sudah menjadi, hak masing-masing. Wallahu ‘alam

Masalah : Bagaimana bila pihak pengelola melanggar syarat atau melakukan kesalahan prosedur dalam usaha sehingga menyebabkan kerugian?

Jawab : Kerugian tersebut menjadi tanggungan pihak pengelola yang telah melanggar persyaratan yang telah disepakati, atau melakukan kelalaian, atau kesalahan prosedur. Sejumlah ahli ilmu telah menyebutkan kesepakatan ulama dalam masalah ini, di antaranya adalah Ibnu Hazm dalam kitab Maraatibul Ijma (hal. 93), dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma (hal.112 nomor 535). Namun Ibnu Abi Syaibah menukil dalam Mushannaf-nya (IV/402-403) dari Az-Zuhri rahimahullah, bahwa beliau menyelisihi ijma’ ini. Demikian pula atsar dari Thawus dan Al-Hasan.

Ibnu Qudamah mengatakan dalam Al-Mughni (VII/162) : “Apabila pihak pengelola melakukan pelanggaran prosedur, atau melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya, atau membeli sesuatu yang dilarang untuk dibeli, maka ia bertanggung jawab terhadap harta tersebut. Demikianlah menurut pendapat mayoritas ahli ilmu”.

Namun pendapat yang kuat adalah, pihak pengelola bertanggung jawab atas kerugian tersebut, jika ia melanggar syarat. Karena seorang mukmin wajib memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Kaum muslimin harus menepati syarat-syarat yang telah mereka sepakati, kecuali syarat yang mehalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal”,

Masalah : Namun, bagaimana jika pihak pengelola melanggar syarat, akan tetapi ia mendapat keuntungan?

Jawab : Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa keuntungan merupakan hak pemilik modal. Karena harta itu merupakan hartanya. Sebagian ahli ilmu lainnya berpendapat, bahwa keuntungan menjadi hak pengelola. Karena dialah yang bertanggung jawab apabila terjadi kerugian. Ada pula ulama yang berpendapat, bahwa keuntungan itu menjadi harta sedekah, diberikan kepada fakir miskin. Ada yang berpendapat, keuntungan diserahkan kepada pemodal. Adapun si pengelola berhak memperoleh uang jasa yang setimpal. Ada pula yang berpendapat, keuntungan tersebut dibagi menurut kesepakatan merka berdua.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagaimana tersebut di dalam Majmu Fatawa (XXX/86-87). Wallahu a’lam

Masalah : Bolehkah pihak pengelola mencampur modal tersebut dengan hartanya? Bagaimana bila itu terjadi ?

Jawab : Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni (VII/158) menjelaskan, pihak pengelola tidak boleh mencampur modal mudharabah dengan hartanya. Jika ia melakukan itu, lalu ia tidak bisa memilah mana hartanya dan mana modal mudharabah, maka ia menanggung kerugian yang mungkin terjadi karenanya. Karena ia yang diberi amanah, (dan) modal tersebut ibarat wadhi’ah (barang titipan)”.

Masalah : Bagaimana bila masih bersisa dari harta mudharabah, bolehkah pihak pengelola mengambilnya?

Jawab : Apabila pihak pengelola mendapati di tangannya masih tersisa harta mudharabah, maka ia tidak boleh mengambilnya, kecuali dengan izin pihak pemodal.

Ibnu Qudamah mejelaskan dalam kitab Al-Mughni (VII/171). Intinya, apabila terlihat keuntungan pada harta mudharabah, maka pihak pengelola tidak boleh mengambilnya tanpa seizin pihak pemodal. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ulama dalam masalah ini. Pihak pengelola tidak berhak mengambilnya karena tiga alasan.

Pertama : Keuntungan digunakan untuk menutupi modal dasar, masih terbuka kemungkinan keuntungan tersebut dipakai untuk menutupi kerugian. Sehingga belum bisa disebut sebagai keuntungan.

Kedua : Pemilik modal –dalam hal ini- mitra bisnisnya, dia tidak boleh memotong haknya sebelum pembagian.

Ketiga : Kepemilikan atas keuntungan itu belum tetap, karena bisa saja keuntungan tersebut diambil kembali untuk menutupi kerugian. Namun, apabila pemilik modal mengizinkannya maka ia boleh mengambilnya.karena harta tersebut merupakan hak mereka berdua, dan tidak akan keluar dari hak keduanya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
_______
Maraji
[1]. Minhajus Salikin, SyaikhAbdurrahmanbin Nashir As-Sa’di
[2]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
[3]. Taudhihul Ahkam, Al-Bassam
[4]. Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani
[5]. Silsilah Al-Fatawa ASy-Syar’iyyah, Abul Hasan Al-Ma’ribi
[6]. Mausu’ah Manaahi Syar’iyyah, Syakh Salim bin Id Al-Hilali

SUMBER : http://abuihsan.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.