Keutamaan Amal-amal Shaleh Yang Pahalanya Terus Mengalir

Keutamaan Amal-amal Shaleh Yang Pahalanya Terus Mengalir

بسم الله الرحمن الرحيم

     عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ: « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ » رواه مسلم.

     Dari Abu Hurairah bahwa sungguh Rasulullah  telah bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengusahakan amal-amal shaleh tersebut karena di samping keutamaannya sendiri yang besar, juga pahalanya yang terus mengalir meskipun orang yang mengusahakannya telah meninggal dunia. Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab: Pahala yang (terus) didapatkan oleh seorang manusia (meskipun) dia telah meninggal dunia[2].

Hadits ini juga merupakan penjabaran dari firman Allah:

{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ}

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat amal yang telah mereka kerjakan (di dnia) serta bekas-bekas (yang) mereka (tinggalkan)” (QS Yaasiin: 12).

Artinya: Kami akan menulis amal-amal yang mereka kerjakan sendiri dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan, karena mereka yang mengusahakan sebab terwujudnya amal-amal tersebut, baik amal yang shaleh maupun amal yang buruk[3].

Beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

- Seorang manusia yang telah meninggal dunia, maka terhentilah amal perbuatannya dan terputuslah aliran pahala untuknya, kecuali amal-amal yang diusahakannya selama hidupnya di dunia. Allah berfirman:

{أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى}

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang diusahakannya” (QS an-Najm: 38-39).

Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir berkata: “Artinya: Sebagaimana seorang manusia itu tidak dibebankan padanya dosa orang lain, maka demikian pula dia tidak akan mendapatkan pahala kecuali (dari) amal yang pernah dilakukannya sendiri. Dari ayat yang mulia inilah, imam asy-Syafi’i – semoga Allah merahmati beliau – dan para ulama yang mengikuti pendapat beliau, (mereka) menyimpulkan bahwa pahala bacaan al-Qur’an yang dihadiahkan kepada orang yang telah mati tidak akan sampai (kepadanya), karena itu bukan amal perbuatannya sendiri dan juga bukan (terwujud dengan) usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah  tidak pernah menganjurkan atau mengarahkan umat beliau  untuk melakukan perbuatan ini, baik dengan pertanyaan maupun isyarat. (sebagaimana) hal ini juga tidak pernah dinukil dari (keterangan/perbuatan) salah seorang shahabat, padahal kalau sekiranya perbuatan tersebut baik maka pasti mereka akan mendahului kita dalam perbuatan tersebut. Dan masalah (amal ibadah untuk) mendekatkan diri kepada Allah (sumber pensyariatannya) hanya terbatas pada dalil-dalil (dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah ), tidak boleh ditetapkan dengan menggunakan qiyas (analogi) ataupun pikiran (semata-mata)”[4].

- Anjuran untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi datangnya kematian yang pasti terjadi, dengan memperbanyak amal-amal shaleh. Allah berfirman:

{الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً}

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS al-Kahfi: 46).

- Anjuran mewakafkan harta untuk amal-amal kebaikan, seperti pembangunan mesjid, sekolah agama Islam, penyediaan mushaf al-Qur’an, penggalian sumur untuk kebutuhan kaum muslimin, dan lain-lain[5].

- Anjuran menyebarluaskan ilmu yang benar dan bermanfaat dengan cara mengajarkannya dan menulis tulisan yang bermanfaat bagi manusia[6].

- Anjuran mengusahakan pendidikan yang baik untuk anak-anak agar mereka menjadi anak yang shaleh[7].

- Dalam hadits ini juga terdapat anjuran untuk menikah dengan tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh dan bermanfaat bagi orang tuanya sepeninggal mereka[8].

- Hadits ini juga menunjukkan bahwa mengirim pahala bacaan al-Qur’an, shalat dan amal-amal lainnya, tidak diperbolehkan dan tidak akan sampai kepada orang yang telah mati, karena bukan termasuk usahanya. Inilah pendapat imam asy-Syafi’i dan mayoritas ulama, sebagaimana penjelasan imam an-Nawawi[9].

-Adabeberapa amal shaleh yang bisa bermanfaat bagi orang yang telah mati meskipun amal tersebut bukan dari usahanya, ini merupakan pengecualian karena disebutkan dalam dalil-dalil yang shahih, tapi tidak boleh disamakan dengan amal-amal shaleh lainnya, karena bertentangan dengan dalil-dalil yang kami sebutkan di atas. Di antara amal-amal tersebut:

- Doa orang muslim bagi orang yang telah mati, jika terpenuhi padanya syarat-syarat dikabulkannya doa

- Puasa nazar yang belum dilakukannya kemudian ditunaikan oleh salah seorang walinya

- Tanggungan utangnya yang kemudian dilunasi oleh orang lain[10].

وصلى الله وسلم وبارك و أنعم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

Kota Kendari,  10 Rabi’ul akhir 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] HSR Muslim (no. 1631).

[2] Kitab “Shahih Muslim” (3/1254).

[3] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 692).

[4] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/329).

[5] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/467).

[6] Lihat kitab “Syarhu shahihi Muslim” (11/85) dan “Bahjatun naazhiriin” (2/468).

[7] Ibid.

[8] LIhat kitab “Syarhu shahihi Muslim” (11/85).

[9] Dalam kitab “Syarhu shahihi Muslim” (11/85).

[10] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/193) dan “Ahkamul jana-iz” (hal. 213-226)..

INILAH 6 CONTOH KESALAHAN DI HARI RAYA ‘IEDUL FITRI/ADHA : Mengkhususkan Ziarah Kubur, Berjabat Tangan dengan Bukan Muhrim, Cukur Jenggot, Balapan Kendaraan, Berdzikir dengan Tabuhan dan Suara Musik dan Sholat di Atas Koran dan Sesuatu yang Bergambar

Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya

Hari raya adalah hari bergembira bagi seluruh ummat Islam di Indonesia Raya, bahkan di seluruh dunia. Ini merupakan nikmat dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Namun kegembiraan ini terkadang disalahsalurkan oleh sebagian kaum muslimin dalam beberapa bentuk pelanggaran berikut:

  • Mengkhususkan Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan perkara yang dianjurkan oleh syari’at kita, selama di dalamnya tak ada pelanggaran, seperti melakukan kesyirikan, dan perbuatan bid’ah(perkara yang tak ada contohnya). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الآخِرَةَ

“Berziarahlah ke kubur, karena sesungguhnya ia akan mengingatkan kalian tentang akhirat”. [HR. Ibnu Majah (1569). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Adab (518)]

Adapun jika di dalam ziarah terdapat perbuatan kesyirikan (seperti, berdoa kepada orang mati, meminta sesuatu kepadanya, dan mengharap darinya sesuatu), maka ini adalah ziarah yang terlarang. Demikian pula, jika dalam ziarah ada perbuatan bid’ah (tak ada contohnya dalam syari’at), seperti mengkhususkan waktu, dan tempat ziarah kubur, maka ini adalah ziarah yang terlarang. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan termasuk darinya, maka sesuatu itu akan tertolak”. [HR. Al-Bukhoriy (2550), dan Muslim (1718)]

Jadi, mengkhususkanziarah kuburdi awal Romadhon, dan hari raya merupakan perkara yang terlarang, karena ia termasuk bid’ah, tak ada tuntunannya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat dalam mengkhususkannya. Mereka berziarah kapan saja, tak ada waktu, dan tempat khusus ketika ziarah kubur. Yang jelas, bisa mengingat mati sesuai sunnah.

  • Berjabat Tangan antara Seorang Lelaki dengan Wanita yang Bukan Mahram

Berjabatan tangan antara kaum muslimin ketika bersua adalah yang lumrah, baik itu di hari raya, atau selainnya. Namun ada satu hal perlu kami ingatkan bahwa berjabatan tangan dengan wanita yang bukan mahram kita -khususnya-, ini dilarang dalam agama kita, karena ia tak halal disentuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرُ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashir Al-Albaniy-rahimahullah- berkata setelah menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah (1/1/448), “Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tak halal baginya. Jadi, di dalamnya juga ada dalil yang menunjukkan haramnya berjabat tangan dengan para wanita (yang bukan mahram), karena berjabat tangan dicakup oleh kata “menyentuh”, tanpa syak. Perkara seperti ini telah menimpa kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang),diantara mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka masalahnya sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha meghalalkannya dengan berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ada seorang tokoh besar di Al-Azhar telah disaksikan oleh sebagian orang sedang berjabat tangan dengan para wanita !! Hanya kepada Allah tempat kita mengadu dari keterasingan Islam”.

Saking asingnya, orang berilmu saja tak tahu atau pura-pura tak tahu tentang haramnya jabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

  • Mencukur Jenggot

Jenggot adalah lambang kejantanan pria muslim yang diharuskan dan diwajibkan untuk dijaga dan dipanjangkan. Dengarkan perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أُحْفُوْا الشَّوَارِبَ وَأْعْفُوْا اللِّحَى

“Potonglah (tepi) kumis, dan biarkanlah (panjangkan) jenggot”. [HR. Al-Bukhoriy (5553), dan Muslim (259)]

Perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits ini mengandung hukumwajibnya memelihara jenggot, dan membiarkannya tumbuh.[Lihat Madarij As-Salikin (3/46) karya Ibnul Qoyyim, cet. Dar Al-Kitab Al-Arabiy]

Para ulama’ dari kalangan Malikiyyah berkata, “Haram mencukur jenggot”. [Lihat Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah (2/45)]

Namun amat disayangkan, lambang kejantanan ini dipangkas, bahkan dibabat habis oleh sebagian orang yang mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam segala urusannya. Mereka tak sadar bahwa jenggot adalah perkara yang diperhatikan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai beliau mewajibkannya atas pria muslim.

Kebiasaan jelek ‘mencukur dan memangkas jenggot’ sudah mendarah daging dalam pribadi mereka sehingga di hari raya ied kita akan menyaksikan pemandangan yang mengerikan dengan maraknya gerakan “Pangkas dan Gundul Jenggot” di kalangan kaum muslimin, baik yang tua, apalagi remaja!!

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata, “Maksiat ini (cukur jenggot) termasuk maksiat yang paling banyak tersebar di antara kaum muslimin di zaman ini, karena berkuasanya orang-orang kafir (para penjajah) atas kebanyakan negeri-negeri mereka, mereka juga (para penjajah itu) menularkan maksiat ini ke negeri-negeri itu; serta adanya sebagian kaum muslimin taqlid kepada mereka, padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang mereka dari hal itu secara gamblang dalam sabdanya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

خَالِفُوْا الْمُشْرِكِيْنِ اُحْفُوْا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوْا اللِّحَى

 Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah (pinggir kumis kalian, dan biarkanlah (perbanyaklah) kalian“. “.[HR. Al-Bukhoriy (5553), dan Muslim (259)]“. [Lihat Hajjah An-Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- (hal. 7)]

  • Mengadakan Lomba dan Balapan Kendaraan di Jalan Raya

Sudah menjadi kebiasaan buruk menimpa sebagian tempat di Indonesia Raya, adanya sebagian pemuda yang ugal-ugalan memamerkan “kelincahan” (baca: kenakalan) mereka dalam mengendarai motor atau mobil di malam hari raya. Ulah ugal-ugalan seperti ini bisa mengganggu, dan membuat takut bagi kaum muslimin yang berseliweran, dan berada dekat dengan TKP (tempat kejadian peristiwa). Bahkan terkadang mereka menabrak sebagian orang sehingga orang-orang merasa kaget dan takut lewat, karena mendengar suara dentuman knalpot mereka yang dirancang bagaikan suara meriam. Padahal di dalam Islam, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang kita mengagetkan seorang muslim.

Abdur Rahman bin Abi Laila berkata, “Sebagian sahabat Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menceritakan kami bahwa mereka pernah melakukan perjalanan bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Maka tidurlah seorang laki-laki diantara mereka. Sebagian orang mendatangi tali yang ada pada laki-laki itu seraya mengambil tali itu, dan laki-laki itu pun kaget. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

لَايَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut seorang muslim”. [HR. Abu Dawud (5004). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Maram (447)]

Jika dibanding antara kagetnya sahabat yang tertidur ini akibat ulah temannya dengan kaget, dan takutnya kaum muslimin yang lewat atau berada di lokasi balapan, maka kita bisa pastikan bahwa balapan liar seperti ini, hukumnya haram. Apalagi pemerintah sendiri melarang hal tersebut, karena menelurkan bahaya bagi diri mereka, dan masyarakat !! Fa’tabiruu ya ulil abshor…

  • Berdzikir dengan Tabuhan dan Suara Musik

Berdzikir adalah ibadah yang harus didasari oleh sunnah (tuntunan) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam perkara tata cara, waktu, dan tempatnya. Jika suatu dzikir, caranya tidak sesuai sunnah, misalnya dzikir jama’ah, dzikir dengan suara musik, dzikir sambil joget, dan lainnya, maka dzikir tersebut adalah bid’ah (ajaran baru) yang tertolak. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan termasuk darinya, maka sesuatu itu akan tertolak”. [HR. Al-Bukhoriy (2550), dan Muslim (1718)]

Jadi, dzikir (diantaranya takbiran ied), jika diiringi suara musik, maka ini adalah bid’ah yang tidak mendapatkan pahala, bahkan dosa. Oleh karenanya, kita sesalkan sebagian kaum muslimin bertakbir dengan beduk, gitar, suara orgen, bahkan anehnya lagi mereka ramu dengan bumbu musik ala “Disco Remix”, Na’udzu billah min dzalik !!!!

Al-Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata ketika beliau mengingkari taghbir (dzikir yang diiringi tabuhan rebana atau pukulan tongkat), “Aku tinggalkan di Kota Baghdad sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq (munafik) yang mereka sebut dengan “taghbir” untuk menyibukkan manusia dari Al-Qur’an”. [Lihat Hilyah Al-Auliya’(9/146)]

Belum lagi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengharamkan musik. Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Benar-benar akan ada beberapa kaum diantara ummatku akan menghalalkan zina, sutra, minuman keras, dan musik“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5268)]

  • Sholat di Atas Koran dan Sesuatu yang Bergambar

Hari raya ied merupakan hari bergembira dan beribadah bagi kaum muslimin. Mereka berbondong-bondong menuju ke lapangan untuk melaksanakan sholat ied dalam rangka beribadah dan menampakkan persatuan kaum muslimin. Tapi ada satu hal yang mengundang perhatian, ketika mereka ke lapangan, mereka membawa surat kabar alias koran atau yang bergambar (seperti, baju) untuk dijadikan alas. Gambar yang terdapat di koran itu sering kali nampak di depan mata mereka ketika sholat, sehingga mengganggu ke-khusyu’-an mereka dalam sholat.

A’isyah -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Sesungguhnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah sholat menggunakan khomishoh (pakaian) yang memiliki corak. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat kepada pakaian itu dengan sekali pandangan. Tatkala usai sholat, beliau bersabda,

اِذْهَبُوْا بِخَمِيْصَتِيْ هَذِهِ إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ وَأْتُوْنِيْ بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِيْ جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِيْ آنِفًا عَنْ صَلَاتِيْ

“Bawalah khomishoh-ku ini ke Abu Jahm, dan bawa kepadaku Anbijaniyyah (pakaian tak bercorak) milik Abu Jahm, karena khomishoh ini tadi telah melalaikanku dalam sholat”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (366), dan Muslim dalam Shohih-nya (556)]

Al-Imam Ath-Thibiy-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits Anbijaniyyah (hadits di atas) terdapat pemberitahuan bahwa gambar, dan hal-hal yang mencolok memiliki pengaruh bagi hati yang bersih, dan jiwa yang suci, terlebih lagi yang di bawahnya”.[LihatUmdah Al-Qoriy (4/94)]

Pengaruh gambar sangat besar bagi seseorang, apalagi saat sholat. Dia bisa menghilangkan kekhusyu’an. Terlebih lagi jika gambarnya adalah manusia. Oleh karena itu Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- meminta baju lain yang tak bergambar. Tragisnya lagi, jika kita sedang sholat, sedang di depan kita terdapat gambar seorang wanita cantik !!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 35 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

Sumber URL : http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/kekeliruan-kesalahan-di-hari-raya.html

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (3)

بسم الله الرحمن الرحيم

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (3)

Ringkasan Fatwa Aqidah Al-Lajnah Ad-Daimah:

 

الرقم

No

الحالة

Masalah

الحكم

Hukum

المرجع

Sumber

21 من اعتقد من المكلفين المسلمين جواز النذر والذبح للمقبورين

Seorang muslim mukallaf yang berkeyakinan bolehnya bernadzar dan menyembelih untuk orang-orang mati

اعتقاده شرك أكبر

Keyakinannya itu termasuk syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 182
22 حكم الاستعانة بقبور الأولياء، والطواف بها، والتبرك بأحجارها، والنذر لهم

Hukum meminta tolong dengan kuburan para wali, tawaf mengitarinya, mencari berkah dengan batu-batuannya dan bernadzar untuk para wali tersebut

شرك أكبر

Syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 186
23 الاستعانة بقبور الأولياء، والإظلال على قبورهم، واتخاذهم وسيلة عند الله

Meminta tolong kepada para wali yang telah mati, memayungi kuburannya dan bertawasul dengan mereka

شرك أكبر

Syirik besar (adapun memayungi kuburannya termasuk bid’ah yang mengantarkan kepada syirik)

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 186
24 حكم النذر

Hukum nadzar

لا يشرع

Tidak disyariatkan

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 186 – 187
25 النذر لغير الله

Bernadzar untuk selain Allah

شرك أكبر

Syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 186 – 187
26 النذر لأضرحة المشايخ

Bernadzar untuk kuburan para ulama

شرك

Syirik (besar)

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 188 – 189
27 السجود على المقابر والذبح عليها

Bersujud dan menyembelih di atas kuburan 

وثنية جاهلية وشرك أكبر

Paganisme Jahiliyah dan syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 193 – 194
28 الذبح للميت الذي يدعى أنه ولي الله

Menyembelih untuk mayyit yang mengaku wali Allah

نوع من أنواع الشرك

Termasuk syirik (besar)

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 194 – 195
29 الذبح للجن إرضاء لهم، ورجاء قضائهم للحاجات، أو دفعا لشرهم

Menyembelih untuk jin demi mencari keridhaannya, mengharap terkabulnya hajat atau agar selamat dari kejahatannya

شرك أكبر

Syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 195 – 196
30 ذبح الذبائح عند أضرحة الأولياء

Menyembelih (untuk selain Allah) di kuburan para wali

شرك

Syirik (besar)

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 197 – 198

Sumber Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (1)

Inilah cara mudah dalam mempelajari Aqidah Islam, dari tanya jawab bersama Kibarul Ulama di Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa). Kami terjemahkan dari website resminyawww.alifta.com yang disertai dengan link sumber-sumber fatwa untuk memudahkan pembaca mempelajari dalil-dalil dan penjelasannya secara detail. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi amal shalih bagi yang menerjemahkannya, mempelajarinya dan menyebarkannya.

الرقم 

No

الحالة 

Masalah

الحكم 

Hukum

المرجع 

Sumber

1 من يعتقد تصرف أحد في الكون غير الله تعالى 

Seorang yang meyakini ada selain Allah yang mengatur alam ini

من يعتقد ذلك كافر 

Barangsiapa meyakini seperti itu kafir

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 57 – 58
2 جماعة تستغيث بغير الله 

Sekelompok orang ber-istighotsah(meminta pertolongan ketika musibah) kepada selain Allah

يشركون شركا أكبر 

Mereka telah berbuat syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 102 – 103
3 الاستغاثة بالغائب الميت 

Istighotsah kepada orang yang tidak hadir, serta orang mati

شرك أكبر 

Syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 110
4 من يستغيث بأصحاب القبور، أو ينذر لهم هل يصلى خلفه 

Bolehkah sholat menjadi makmum kepada orang yang ber-istighotsahkepada penghuni kubur?

لا يصح أن تصلي خلفه؛ لأنه مشرك 

Tidak sah sholat dengan bermakmum kepadanya, karena dia seorang yang menyekutukan Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 118 – 119
5 هل يجوز أن يقول في الدعاء : (أجيبوا أو توكلوا يا خدام هذه الأسماء الحسنى بقضاء الحاجة) 

Bolehkah seorang berdoa: “Jawablah wahai para pengawal asmaul husna untuk mengabulkan hajatku?”

شرك أكبر؛ لأنه نداء غير الله 

Syirik besar, karena itu adalah doa kepada selain Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 133 – 134
6 طلب المدد من شخص ميت 

Minta tolong kepada orang mati

شرك أكبر؛ لأنه طلب من غير الله تعالى 

Syirik besar, karena itu adalah doa (permohonan) kepada selain Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 137
7 طلب المدد من الحي الذي ليس بحاضر 

Minta tolong dari seorang yang tidak hadir

ينصح فإن لم يقبل فهو مشرك 

Hendaklah dinasihatkan, jika pelaku tidak meninggalkan kesyirikan itu maka dia musyrik

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 137
8 ذكر الله جماعة بصوت واحد على طريقة الصوفية. 

Dzikir berjama’ah dengan satu suara (koor) seperti cara kaum Sufi

بدعة 

Bid’ah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 138 – 139
9 دعاء غير الله من الأولياء والصالحين 

Berdoa kepada selain Alah seperti kepada para wali dan orang-orang shaih

شرك أكبر يخرج من الإسلام 

Syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 140 – 142
10 ادعاء علم الغيب 

Mengaku tahu ilmu ghaib

كفر 

Kufur

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 140 – 142

Sumber Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.